Langsung ke konten utama

Merawat Kejujuran


~ Perlahan lepaskan topeng karaktermu, Mulailah jujur pada dirimu ~

Sedari kecil kita sudah dididik untuk menjadi seseorang yang berperilaku baik. Entah itu berkata santun, jujur, sabar, tidak sombong, dermawan serta segala hal yang dianggap baik. Perangai tersebut menjadi pelajaran mendasar bagi kita semua. Namun, nyatanya untuk membiasakannya (re: perangai baik) juga tidak mudah. Karena peran orang tua menjadi hal penting dan utama dalam membentuk karakter anak-anaknya. Untuk menjadi orang tua (seperti yang pernah saya dengar) itu tidak mudah. Diperlukannya wawasan ataupun ilmu parenting yang cukup.

Seperti saat melatih anaknya berkata jujur. Terkadang ketika kita mendengar kata “jujur” itu sudah menjadi hal yang terlalu biasa. Padahal untuk mambentuk karakter jujur pada seseorang itu butuh upaya yang tidak sebentar. We need a patience to form a good character. Membentuk karakter jujur itu butuh konsistensi. Semisal dari kecil kita sudah membiasakan berkata jujur, namun bukan berarti sampai dewasa kita akan terus jujur. Terkadang ada suatu waktu yang menuntut kita berkata tidak sesuai dengan fakta alias berbohong.

Tetapi sebenarnya definisi jujur itu apakah selalu berkenaan dengan orang lain? Ataukah bisa dengan diri sendiri? Nyatanya keadaan sering menuntut kita untuk jujur dengan orang lain dan sering membohongi diri sendiri. So, mulailah membuka pandangan kita tentang sebuah kejujuran, about a honesty. Cukup mudah kok, coba saja dengarkan kata hatimu mulai dari sekarang.

Sebenarnya apa yang benar-benar kamu inginkan di fase kehidupanmu saat ini? Apa tujuanmu hidup di masa mendatang? Apa yang membuatmu nyaman menjalani kehidupan? Hal apa yang mampu membuatmu bahagia tanpa penuh kepura-puraan? Lalu apakah kamu sudah merasa berharga untuk  orang lain? Ada banyak pertanyaan yang belum tentu bisa kita jawab saat itu juga. Padahal kita sudah diajarkan mengenai kejujuran dari kecil. Berarti kejujuran memang membutuhkan konsistensi bukan? Mari merawat kejujuran, dimulai dengan jujur dengan diri sendiri.

 

Lorong asrama (Smg), 26 Februari 2022
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita (Sebentar)

 Halo guys!!! Sudah lama ya tidak mendengarkanku bercerita alias yapping ^^ Tulisan terakhir di blogku ini tahun 2024 silam, “Merayakanmu (Lagi) judulnya. Hiatusnya lumayan lama yaa! It’s okay dude. Aku baik-baik aja sekarang.   Tulisanku kali ini hanya ingin sedikit bercerita dengan kehidupanku selama 2 tahun terakhir. Cukup lama aku memang tidak menulis, hari ini mencoba menulis kembali. Menghidupkan ketenangan dan mencurahkan rasa syukur dalam bentuk tulisan. Lagi-lagi Tuhan memberiku kesempatan untuk menulis lagi. Di tengah kesibukan bekerja, hehe udah bekerja aja sekarang yaa.   Dua tahun lalu, tepatnya aku masih struggle untuk mencapai mimpi yash, dengan menempuh kuliah magister. Mimpi yang aku pilih waktu itu. Namun, kini jalannya berbeda jauh dari apa yang aku pikirkan. Aku kini tidak kuliah, tetapi bekerja. Menghasilkan gaji dan memenuhi kesejahteraan perut, eits canda. Tidak hanya kesejahteraan perut kok, saving money is a priority. Di kehidupan de...

Merayakanmu (Lagi)

  Untuk kamu, cinta yang selalu aku rayakan ~ Bulan ke sembilan tahun kemarin, aku sudah menceritakanmu melalui sebuah tulisan yang tidak begitu panjang. Saat itu, perasaanku padamu belum begitu jelas. Namun, kini alur cerita kita sudah jelas bisa kuceritakan… ~ Melewati beberapa purnama dengan jalinan komunikasi yang cukup intens denganmu memberikan kenyamanan tersendiri bagi diriku. Aku merasakan kehadiranmu meski sebenarnya jarak fisik kita begitu jauh. Kamu menjadi rumah yang sebelumnya selalu kudoakan kehadirannya pada Tuhan. Tidak menyangka, kedekatan kita semakin memperjelas perasaan yang tersimpan. Aku mencintaimu. Kamu menjadi pilihanku untuk menjalani proses kehidupan bersama. Sebelumnya aku pernah menuliskan rasa terima kasihku karena padamu karena telah mempersilahkanku berkenalan denganmu. Dan kini aku mengucapkan terima kasih ke-sekian kalinya padamu. Terima kasih sudah memilihku, terima kasih sudah menjadikanku rumah ceritamu, terima kasih sudah mau kujadikan pasanga...

Ego(sentris)

  Memulai tulisan ini ada baiknya aku beri sapaan yang sedikit hangat yaa untuk kalian Hai manusia baik! Siapapun kamu yang berkenan membaca beberapa kata dalam tulisan ini, aku berharap hari-harimu selalu diberikan kebahagiaan yang sederhana. Ya, untuk bahagia tidak membutuhkan sesuatu yang rumit. Aku percaya itu~   *** Egosentris, Perasaan tidak peduli dengan orang lain dan meletakkan perasaan dirimu adalah poros yang harus dimaklumi. Sepertinya aku, kamu atau orang terdekatmu pernah merasa demikian. Membuat orang lain agar selalu peduli dengan apa yang kita rasakan bukan hal yang mudah pun sebaliknya. Realitanya kita juga susah untuk mempedulikan perasaan orang lain, kan? Terdengar kejam, tapi memang manusia sering menunjukkan topeng yang satu ini.  Ada banyak warna perasaan yang kita punya.  Bahagia, sedih, kesal, marah dan perasaan-perasaan lain yang belum menemukan definisinya. Perihal perasaan bahagia dan sedih mungkin sudah sering dibahas dalam berbagai l...