Langsung ke konten utama

Ego(sentris)

 


Memulai tulisan ini ada baiknya aku beri sapaan yang sedikit hangat yaa untuk kalian

Hai manusia baik!

Siapapun kamu yang berkenan membaca beberapa kata dalam tulisan ini, aku berharap hari-harimu selalu diberikan kebahagiaan yang sederhana. Ya, untuk bahagia tidak membutuhkan sesuatu yang rumit. Aku percaya itu~ 

***

Egosentris,

Perasaan tidak peduli dengan orang lain dan meletakkan perasaan dirimu adalah poros yang harus dimaklumi. Sepertinya aku, kamu atau orang terdekatmu pernah merasa demikian. Membuat orang lain agar selalu peduli dengan apa yang kita rasakan bukan hal yang mudah pun sebaliknya. Realitanya kita juga susah untuk mempedulikan perasaan orang lain, kan? Terdengar kejam, tapi memang manusia sering menunjukkan topeng yang satu ini. 

Ada banyak warna perasaan yang kita punya. Bahagia, sedih, kesal, marah dan perasaan-perasaan lain yang belum menemukan definisinya. Perihal perasaan bahagia dan sedih mungkin sudah sering dibahas dalam berbagai lini masa. Pun banyak orang yang dengan mudahnya memvalidasi kedua perasaan itu. Mungkin sebagian orang juga akan mudah menunjukkan perasaan marahnya dalam banyak ekspresi. Tapi tidak dengan diriku[]

Aku mudah memvalidasi perasaan bahagia dan sedih, tapi tidak dengan perasaan marah. Terdengar egois bukan? Atau malah naif, entahlah. Namun itu hal yang selama ini aku rasa. Aku sulit untuk memvalidasi perasaan marah, mungkin hal itu terjadi karena aku berpikir bahwa ekspresi perasaan marahku akan menyakiti banyak hati. Hati yang tidak seharusnya aku sakiti dengan ucapanku. 

Terlahir menjadi sosok yang sangat ‘menjaga bicara’ membentuk diriku tidak mudah untuk mengekspresikan perasaan marahku. Aku paham soal luka yang tidak akan sembuh hanya karena perkataan yang kurang enak didengar. Aku mengalaminya. Luka itu bukan dari orang-orang yang kuanggap ‘rumah’ tentunya.

Egosentris,

Sudah saatnya aku, kamu dan siapapun itu berdamai dengan semua perasaan bukan? Memvalidasi perasaan marah pun bukan termasuk egois. I just remind you that no matter what happens will happen. Menanggalkan dan tidak menganggap kemarahan sebagai sebuah perasaan yang perlu dimaklumi nyatanya akan menyakiti diri sendiri. 

Saat ini, mungkin aku pun masih perlu banyak belajar soal penyikapan akan semua perasaanku. Memahami perasaan marah terhadap suatu hal ternyata mampu mendewasakan emosi diri. Emosi memang sering kita anggap sesuatu yang negatif, padahal perasaan bahagia dan sedih juga bagian dari emosi. Emosi itu perasaan yang meluap dan surut dalam waktu singkat. Bukankah tidak selamanya kita merasa bahagia?

 

***

Sepertinya aku sudah banyak bicara kali ini,

Terima kasih teruntuk kamu yang tetap bertahan meski sesekali merasa harus angkat tangan

Kamu hebat dengan jalan yang kamu pilih

Jangan bosan mendengar ceritaku, yaa//

 

Komentar