Langsung ke konten utama

Postingan

Syair: tak bersajak

Terkenang Kujajaki lorong waktu Melintasi titian batu alam Perih, lara terasa Sebab pergi tanpa alas kaki Kini, aku tiba Dalam sebuah ruang sunyi Namun berpenghuni Terpandang indah nan mempesona Terwalak di bawah dua jabal Sindoro Sumbing Kau terbentang Bernaung sawang langit Lega sudah mengenalmu Kini kita berjarak Berpuluh cerita lama Terukir dalam ingatan Rindu, gelebah, gelisah Berlainan aksara Menjadi balasan Sebab salam perpisahan usai Rindu... Terbangun di sepertiga malam Berpasrah akan esok hari Menitikkan air mata Khidmat, khusyuk  Dalam keheningan  Berhawa dingin Sungguh damai sanubari Kala itu... Asrama kecil Pojokan sekolah Tempat kuberteduh Pekikan, sorakan  Sungguh mencipta tawa Dua tahun sudah, Diri ini tahu dan mengenalmu Berulang kali mengisi kesibukan Mengalihbahasakan bahasa Timur Tengah Hingga Bahasa Negeri Paman Sam Kuucap terimakasih Atas pelajaran Akan kesederhanaan, kesantunan, kesabaran Serta perihal lain yang terabadikan rapi Dalan manuskrip bern...

Syair: makhluk biasa

Sembah Waktu terus beralih Meski aku berdalih Perangai diri kerap kali lengah Kala terpendam amarah Tuhan pemilik semesta alam Memujamu dalam ucap Cara sederhana Aku merinduimu Menghamba Mengucap syukur Menghadap-Mu Tuhan... Lima waktu kupinta rahmat-Mu Muara berkisah segala yang berjiwa Sungguh ke hadirat-Mu Aku kembali Gemerlap dunia  Mengelamkan nurani Hingga melangkah tak tentu arah Keliru, salah, sesat Lalu khilaf Kasihi aku dalam keibaan-Mu Tak berdaya Tanpa naungan-Mu Memberkati makhluk langit pula bumi Menebar kebaikan Silih asih antar sesama Lantas Tuhan meninggikan harkatmu Di hadapan seluruh anak Adam -Spread the kindnesses everywhere you are-

Syair Renungan

Doc : Mafriha Azida Nista Diam,  Aku tak bersuara Bukan karena jemawa Aku termangu, Dalam sunyi di sekelilingku Khayalku telah mengajak berdarma wisata Namun aku memilih singgah Dalam ruang gelap, tak berpenghuni Hanya ada aku dan keheningan Sungguh aku ingin menimpali seribu tanyamu Tetapi tiada satupun suaramu Yang aku terima, Ya karena Tuhan telah menggariskan Mendengar, verba yang musykil bagiku Telinga ini sudah selesai melaksanakan tugas Kini silih berganti dengan hati Mendengar dalam keheningan yang mencipta sebuah makna Kehidupan... -Kadangkala hati mampu mendengar dan memaknai ucapan, ketika telinga sedang tidak berperan

Sajak; tiada suara

Doc : Pinterest Dunia sunyi Dalam ruang gelap;hitam Kesunyian menguasai Imaji yang tak sanggup aku maknai Tentang sebuah arti juang Kehadiran dan perpisahan Begitulah alur kehidupan Tiada terka dalam detik itu Kamu datang Berucap salam, sembari tersenyum Diam, sunyi, hening Mampu merajai nalarku Pesonamu mengalahkan logikaku Tentang sebuah nyata Namun, kuanggap semu Aku melangkah ke depan Dan, kau Membayangi jejakku, dalam diammu Sungguh, tiada yang mampu memfaalkan Telatahmu pula dialogmu Menghadirkan tanya tanpa jawaban Ya... Kamu sempat singgah Namun abai memberi jejak Terimakasih untuk kamu, yang telah melewati beberapa purnama bersamaku Semesta, 26 April 2020

Kalam Alam

Menjelang sore Jalan panjang tak berujung Ilalang bergoyang  Diterpa angin kencang Langit mendung membentang       Kanan kiri hamparan hijau       Ya, berhektar-hektar sawah       Gunung tinggi menjulang       Pokok kayu nampak semu, dikejauhan Sunyi sepi senyap Rasa yang menghampiriku Aku terkelu Tiada kawan di sisi       Namun, di sinilah aku kembali       Setelah pengembaraanku usai,       Asa t'lah tercapai,       Dan perindu sudah melambai Pulang tuk memberi warta Tentang marcapada, Yang begitu lapang Untuk kujajaki ~ Potret Tersono, ketika langit mengajakku berdialog lewat rintik dan hujan. (27/12/219)

Sajak Desember

Tanda   Aku bersaksi atas isyarat semesta Dalam putaran cakrabuana Langit tetap setia Sebagai peneduh ardi Alam memberi tanda Agar insan peka Pada mereka yang butuh Tangan-tangan belas kasih Kutatap mereka, dalam kesengsaraan Sejenak aku berpikir Sia-siakah hidupku? Tanpa bisa berbagi Arta yang Tuhan beri Entah hilang tanpa jejak Tuk kesenangan belaka Di sini, di ruang fana Bersyukurlah, Nikmat yang dipunya Semoga memberi berkah Dalam darmawisata hidupmu Jalani alurmu, laksana daun yang gugur Dari rantingnya Hujan yang jatuh Dari angkasa raya Semua itu, kuasa Almalik

Saintek News

Hadirkan Gus Muwafiq, Senandung Solawat menggema di Harlah FST Doc : Widodo Febri Utomo SEMARANG - Fakultas Saintek dan Teknologi (FST) mengadakan saintek bersholawat dalam menyambut hari lahirnya dengan menghadirkan Kiai Ahmad Muwafiq di lapangan UIN Walisongo, kamis (28/11) Gus Muwafiq menjelaskan bahwa dalam menghadapi problem kekinian dan masa depan, banyak yang mengadakan acara bersholawat. "Bersholawat yakni mensinergikan diri untuk melakukan sesuatu pada saat yang sama dengan Allah dan Malaikat-Nya," tuturnya. Menurutnya, sholawat sangat manjur serta menjadikan Nabi Muhammad SAW mampu melakukan pekerjaan di luar nalar pikiran manusia. Maka jika punya impian yang tidak masuk akal, sertakan sholawat. "Sholawatlah, Saling menebarkan kebaikan, karena kebaikan manusia tidak bisa bediri sendiri," jelasnya Pada akhir acara muwafiq mengajak seluruh jamaah untuk bersholawat bersama. Reporter : Mafriha Azida Editor : Yulina RC