ANTARA AKU DAN RUMAH
Lelah menghampiriku setelah melewati perjalanan panjang dua hari dua malam. Ya, dua warsa yang lalu aku memutuskan untuk merantau guna melanjutkan studi. Berangkat dari rumah dengan bekal restu dan doa orang tua tekad kuatku semakin memuncak. Meneruskan pendidikan sarjana menjadi harapanku sejak dulu. Bukan tanpa alasan, dulu aku berpikir dengan berkuliah dan menyandang gelar sarjana keluargaku terangkat nama baiknya. Lambat laun, pemikiran itu meredup. Keadaan di perantauan semakin mendewasakan diriku. Harapku satu, ilmu yang sudah ku dapat mampu memberikan manfaat bagi orang-orang terdekatku. Bahkan harapan paling besarku, selalu membahagiakan orang tuaku.
***
Aku pulang dan menemui bapak ibuk, mereka kian menua dimakan oleh usia. Batinku kian sesak dihadapkan dengan keadaan saat ini. Pikirku hanya satu, mereka semakin menua tapi hingga kini aku belum mampu memberikan kebahagiaan untuk mereka:’)
Hal demikian yang membuat aku teguh menghadapi problem di perantauan. Mengingat orang tua yang selalu menjadi support systemku. Tak selamanya aku bergantung dengan mereka, usia menuntutku mandiri dan bertanggung jawab. Menemui hal baru, lalu dikecewakan menjadi prosesku untuk terus melaju, bukan malah berhenti dan tak ada progress.
Pak buk...
Gadismu kini sudah tumbuh dan kian dewasa. Semoga di masa senjamu, aku selalu ada untukmu.
***
Setelah bangun dari istirahat menghilangkan lelah dari perantauan, secangkir teh menemaniku di ruang tengah yang kebetulan terdapat jendela kecil. Sehingga pemandangan pegunungan dan sawah begitu jelas tertangkap mata. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Biasanya setiap kali aku pulang Jati akan menemuiku dan bercerita banyak hal. Eeh tiba-tiba dia datang...
~
Tidak lama ia berpamitan denganku untuk pulang. Seketika cerita dari Jati membuatku mengelus dada, oh Tuhan kenapa bisa seperti ini? Hutan yang dulu menjadi tempat kami bertualang dijadikan kawasan industri, pepohonan dirobohkan, berhektar tanah tandus tanpa kehadiran pohon. Namun apalah daya, sekarang aku hanya bisa mengamati saja. Suatu saat nanti semoga aku bisa memberikan solusi dari cerita Jati tadi.
TAMAT

Komentar
Posting Komentar