Setiap orang punya kekhawatiran masing-masing dengan masa depannya. Entah tentang jodohnya nanti, impian yang tak kunjung terwujud, atau circle pertemanan kian mengecil dan bisa saja kita mengkhawatirkan sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata. Namun, sebenarnya di saat usia 20-an kita sedang mengalami fase pencarian jati diri untuk memperjuangkan impian dan kemandirian hidup.
Tanggung jawab kian terasa membebani pundak. Ekspektasi orang-orang seolah selalu membuat diri merasa tak berguna. Serta kekecewaan yang senantiasa mewarnai kehidupan kita menuju dewasa.
Sungguh, menjadi dewasa tak hanya mempersoalkan kesedihan, beban, dan hal-hal buruk yang seolah menunjukkan semesta begitu tak punya hati.
Ada hal sederhana yang lupa kita syukuri, seperti saat Tuhan menghadirkan seseorang, entah siapa pun itu — dan ia merubah kita menjadi lebih baik dengan nasihat² kebaikan yang tak menyudutkan (kita sebagai si pendengar).
Sudah saatnya buka mata dan bicaralah dengan hatimu, 'semesta begitu baik dan di saat yang tepat ia (re: semesta) akan membuktikannya tentu atas kehendak Tuhan.
Tetap bersyukur meski kerap dipatahkan oleh keadaan//
Wsb, 23/01
Komentar
Posting Komentar