Ada momen di saat kita membutuhkan teman, tetapi nyatanya teman tidak akan selalu bersama kita. Lalu, dengan siapa kita bisa bercerita? (Tuhan sudah jelas, iya). Namun, ada cara lain kita bisa bercerita, menuangkan segala kegundahan, kebahagiaan, kekhawatiran, kesedihan dan segala macam perasaan yang sukar diekspresikan.
Puisi menjadi salah satu ruang yang
tepat berbagi cerita pribadi. Melalui puisi, kita mampu menyederhanakan yang
rumit dan merumitkan yang sederhana. Begitulah puisi membahasakan dirinya. Puisi
mengandung bahasa-bahasa indah yang kerap membuat takjub pembacanya.
P.U.I.S.I.
Lima kata sederhana namun mampu menceritakan banyak hal. Puisi kerap menjadi teman bagi diriku di saat dunia sedang tidak ramah. Benarkah dunia setidak ramah itu ya? Entah. Mungkin saja diriku kerap melihat sesuatu yang terjadi dari sisi negatif, sehingga merasa hanya aku yang perlu dikasihani dan menderita. Padahal hal itu salah besar, setiap yang hidup di dunia pasti memiliki masalahnya masing-masing. Jadi, jangan merasa paling nelangsa, ya.
Sebenarnya aku sudah mengenal “puisi” dari guru Bahasa Indonesia(ku) dulu. Namun, mulai paham dengan keindahan puisi itu pada masa akhir-akhir di jenjang sekolah menengah atas. Sejak itu, aku menganggap puisi sebagai sebuah ruang penuh sunyi tapi mampu menciptakan ketenangan. Terdengar berlebihan ya? Hehe. Begitulah diriku setelah mengenal puisi. Menggunakan metafora dalam membahasakan sesuatu, terdengar lebih indah dan butuh berpikir sejenak. “Berpikir sejenak” menjadi sesuatu yang istimewa, karena hal itu merupakan sebuah proses. Proses memaknai isi puisi.
Keberuntungan juga sedang berpihak
padaku. Lingkungan keluarga dan teman-teman yang kebetulan mendukung sesuatu
yang aku sukai (puisi). Terima kasih puisi, telah menjadi ruang bercerita dan
tempat pulang dari semua kata-kata yang tidak bisa terucap olehku.
Ohiya,
Selamat Hari Puisi Internasional.
Untuk para pembaca sekalian
21 Maret 2022

Komentar
Posting Komentar