Langsung ke konten utama

Menjadi (Human being)

 

 Dok: Pribadi


Menjadi manusia itu adalah takdir yang tidak bisa kita duga sebelumnya. Manusia adalah makhluk Tuhan yang dianugerahi akal dan kemampuan untuk menentukan setiap langkahnya di dunia. Manusia kerap dilabeli dengan stigma sosial, yakni menjadi manusia “harus bisa membaur dengan sesama”. Seseorang tidak bisa hidup tanpa orang lain, manusia sebagai makhluk sosial. Kalimat di atas sudah lazim kita dengar, yang mana membuat beban menjadi manusia terasa lebih berat.

Memikirkan hidup kita sendiri saja sering mengeluh apalagi dituntut memikirkan beban orang lain, berat bukan? Menjadi makhluk sosial itu tidak selamanya diartikan bahwa apa pun yang menjadi kesulitan orang lain adalah tugas kita. Tetapi, hal yang utama itu membantu sesuai dengan batas kemampuan kita, tidak dengan cara memaksakan atau menekan diri.

So, dari awal kita juga memang harus menyeimbangkan awareness atau careness sesuai proporsinya. Karena saat diri kita bisa merasa sadar (aware), segala hal yang menjadi skala prioritas sudah tentu akan berjalan dengan semestinya. Misal saja, ketika tubuh kita merasa capek, dan ada seseorang yang meminta bantuan (saat itu juga), hal apa yang akan kalian lakukan? Segera membantunya ataukah beristirahat lebih dahulu?

Hal pertama yang dilakukan saat dirinya sadar, pasti dia akan memilih beristirahat terlebih dahulu. Lalu, setelah dia sudah merasa bugar kembali, itu menjadi waktu yang tepat untuk membantu. Terkesan egois? Prioritas dan egois memang kerap dirasa bias jika dipahami di sini. Namun, yang menjadi benang merahnya yakni, perlakukan diri kita sebaik yang kita bisa lakukan. Kita bisa memilih dan memilah hal prioritas dalam hidup ini. So, be free! Tetapi tetap dalam jalan yang benar.

Lain halnya saat kita membincang rasa peduli (carenees), hal itu akan selalu berkaitan erat dengan “orang lain”. Peduli memiliki dua karib yakni empati dan simpati. Perbedaan keduanya terletak pada tingkatan/level rasa itu. Simpati lebih mengarah ke keadaan yang memahami kesulitan dan kesedihan yang terjadi pada orang lain. Sedangkan empati, kita bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain serta seolah memposisikan dirinya mengalami hal demikian. Dengan demikian, pandailah menentukan sikap kita ke depannya.

 

~Menjadi manusia (sosial), harus diimbangi dengan tepat menentukan prioritas dan kepedulian itu bermuara~

 


Smg, 13 Maret 2022
Salam hangat, pembaca sekalian

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita (Sebentar)

 Halo guys!!! Sudah lama ya tidak mendengarkanku bercerita alias yapping ^^ Tulisan terakhir di blogku ini tahun 2024 silam, “Merayakanmu (Lagi) judulnya. Hiatusnya lumayan lama yaa! It’s okay dude. Aku baik-baik aja sekarang.   Tulisanku kali ini hanya ingin sedikit bercerita dengan kehidupanku selama 2 tahun terakhir. Cukup lama aku memang tidak menulis, hari ini mencoba menulis kembali. Menghidupkan ketenangan dan mencurahkan rasa syukur dalam bentuk tulisan. Lagi-lagi Tuhan memberiku kesempatan untuk menulis lagi. Di tengah kesibukan bekerja, hehe udah bekerja aja sekarang yaa.   Dua tahun lalu, tepatnya aku masih struggle untuk mencapai mimpi yash, dengan menempuh kuliah magister. Mimpi yang aku pilih waktu itu. Namun, kini jalannya berbeda jauh dari apa yang aku pikirkan. Aku kini tidak kuliah, tetapi bekerja. Menghasilkan gaji dan memenuhi kesejahteraan perut, eits canda. Tidak hanya kesejahteraan perut kok, saving money is a priority. Di kehidupan de...

Merayakanmu (Lagi)

  Untuk kamu, cinta yang selalu aku rayakan ~ Bulan ke sembilan tahun kemarin, aku sudah menceritakanmu melalui sebuah tulisan yang tidak begitu panjang. Saat itu, perasaanku padamu belum begitu jelas. Namun, kini alur cerita kita sudah jelas bisa kuceritakan… ~ Melewati beberapa purnama dengan jalinan komunikasi yang cukup intens denganmu memberikan kenyamanan tersendiri bagi diriku. Aku merasakan kehadiranmu meski sebenarnya jarak fisik kita begitu jauh. Kamu menjadi rumah yang sebelumnya selalu kudoakan kehadirannya pada Tuhan. Tidak menyangka, kedekatan kita semakin memperjelas perasaan yang tersimpan. Aku mencintaimu. Kamu menjadi pilihanku untuk menjalani proses kehidupan bersama. Sebelumnya aku pernah menuliskan rasa terima kasihku karena padamu karena telah mempersilahkanku berkenalan denganmu. Dan kini aku mengucapkan terima kasih ke-sekian kalinya padamu. Terima kasih sudah memilihku, terima kasih sudah menjadikanku rumah ceritamu, terima kasih sudah mau kujadikan pasanga...

Ego(sentris)

  Memulai tulisan ini ada baiknya aku beri sapaan yang sedikit hangat yaa untuk kalian Hai manusia baik! Siapapun kamu yang berkenan membaca beberapa kata dalam tulisan ini, aku berharap hari-harimu selalu diberikan kebahagiaan yang sederhana. Ya, untuk bahagia tidak membutuhkan sesuatu yang rumit. Aku percaya itu~   *** Egosentris, Perasaan tidak peduli dengan orang lain dan meletakkan perasaan dirimu adalah poros yang harus dimaklumi. Sepertinya aku, kamu atau orang terdekatmu pernah merasa demikian. Membuat orang lain agar selalu peduli dengan apa yang kita rasakan bukan hal yang mudah pun sebaliknya. Realitanya kita juga susah untuk mempedulikan perasaan orang lain, kan? Terdengar kejam, tapi memang manusia sering menunjukkan topeng yang satu ini.  Ada banyak warna perasaan yang kita punya.  Bahagia, sedih, kesal, marah dan perasaan-perasaan lain yang belum menemukan definisinya. Perihal perasaan bahagia dan sedih mungkin sudah sering dibahas dalam berbagai l...