Benarkah setiap orang selalu mendambakan dengan sebuah kata “pulang” ke rumah?
Dia sedang berdiri di pelataran kontrakan. Ya, namanya Baruna. Aku
juga tidak tahu mengapa dia diberi nama itu. Baruna adalah bahasa Jawa yang
berarti samudra. Apakah orang tuanya menginginkan Baruna memiliki keluasan hati
setara dengan samudra? Atau memang Baruna dilahirkan di saat ayahnya sedang
bertualang mengarungi samudra. Ayah Baruna adalah seorang nahkoda kapal pesiar.
Jadi, saat Baruna lahir ayahnya memang tidak secara langsung melihat wajah anak
lelakinya itu.
***
Kini, dirinya tampak gelisah dan memikirkan sesuatu. Baruna sudah sejak lama merantau ke kota. Ia sedang merindukan ibunya. Perempuan kesayangan yang selalu didoakan. “Duh Gusti, sampun dangu kulo mboten mantuk teng griyo,” tutur Baruna kepada dirinya sendiri. Sejak kecil, dia memang sudah terbiasa jauh dari orang tuanya. Baruna terlahir menjadi lelaki yang berani dan mandiri. Berkat didikan orang tuanya juga dia tumbuh menjadi dewasa yang bertanggung jawab. Dia sosok anak laki-laki yang dekat dengan orang tuanya. Segala cerita dan pengalamannya, dia bagikan dengan ayah atau ibunya meski melalui telepon seluler.
Bulan depan ia berniat pulang.
***
Meski namaku Baruna, yang berarti samudra. Namun, tempat pulang paling
kudamba ialah rumah. Karena di dalam rumah, orang tuaku mampu menciptakan
sebuah kesederhaan dan kebahagiaan. Bertukar cerita dan perspektif hidup.
Selamat malam, Baruna!
Semoga bisa lekas pulang

Komentar
Posting Komentar