Langsung ke konten utama

Merayakan Petualangan di Bulan Oktober

 


Sebelumnya aku sudah merayakanmu, untuk kesempatan ini akan aku rayakan petualanganku di Bulan Oktober.

 Hai para penakluk mimpi!

Sudah sampai manakah perjalananmu saat ini? Setidaknya sudah lebih baik dari hari kemarin ya. Sekarang aku sudah singgah di Elfast Kampung Inggris Pare, Kediri. Rencana yang sudah lama kupunya ternyata baru bisa kujalani. Tidak apa-apa, everyone has a right time to reach its plan, itsn’t right? Nah aku ingin berbagi dengan kalian perihal cerita petualanganku.

Tepat 9 Oktober sekitar pukul setengah lima, aku diantar kakak iparku ke Stasiun Tawang. Jalanan yang cukup padat karena bertepatan para pekerja pulang, tidak menyurutkan tekadku untuk berangkat ke Pare. Bepergian naik kereta adalah pengalaman pertamaku, yep terlebih lagi seorang diri. Perasaan bahagia, khawatir dan takut bercampur aduk saat setibaku di stasiun. Maklum saja, pikiranku sudah sampai kemana-mana ya kan?

Di stasiun aku sempat menunggu beberapa menit, karena seseorang sudah memberi pesan singkat melalui whatsapp padaku, ia berniat menemuiku. Aku menunggu kedatangannya beberapa menit, dan yaa meski sebentar kami sempat bertatap muka.

Dia, seseorang yang menganggapku rumah benar-benar menemuiku meski hanya sebentar, kita juga tidak banyak mengobrol. Setidaknya sudah ada sepatah dua patah kata perpisahan. Sebenarnya sudah sejak beberapa bulan yang lalu, aku pun sudah menganggapmu sebagai rumahku. Rumah yang bisa membuatku aman dan nyaman bercerita banyak hal. Hanya saja, aku tidak memberi tahu padamu soal ini.

Terima kasih ya sudah menyempatkan waktu menemuiku, sepertinya ucapan terima kasih juga masih kurang untuk membalas seluruh kebaikanmu sampai sekarang ini.

Setelah ucapan perpisahan terucap, akhirnya aku mulai mengantre untuk check in tiket. Aku menunggu kereta datang. Sekitar pukul 6, keretaku mulai melaju. Pengalaman mencari gerbong dan berani bertanya atas ketidaktahuanku perihal naik kereta menjadi pelajaran penting bagi diriku. Setelah beberapa jam di kereta, aku sampai di Stasiun Kediri pukul 12 malam. Ada kesalahan informasi antara lembaga yang kutuju dan informasi yang kuberikan. Aku tidak dijemput dari pihak lembaga, dan takdir Allah Swt sekali lagi berpihak padaku.

Saat aku di mushola stasiun untuk melaksanakan sholat, aku bertemu salah satu teman baru. Dia berasal dari Jakarta dan kuliah di Albania. Meski pertemuan kita singkat, tapi ada pelajaran yang bisa aku ambil dari cerita-cerita singkatnya yang dibagi denganku. Kami menginap semalam di daerah Dhaha untuk mengistirahatkan rasa lelah setelah beberapa jam di kereta dan memutuskan keesokan harinya untuk menuju lembaga kursus.

Kami berpisah pagi itu. Aku pun sudah membuat janji dengan bapak driver yang akan menjemputku. Aku dijemput pukul 9. Di dalam mobil kami banyak mengobrol, sembari menuju ke Stasiun Papar untuk menjemput salah satu teman yang akan kursus juga di Elfast Kampung Inggris. Dia dari Bandung, kami sempat mengobrol meski minim obrolan.


 

Setibaku di Elfast, aku langsung ke office untuk mengurus administrasi kegiatanku selama sebulan di sini. Setelah selesai mengurus administrasi, aku diarahkan menuju salah satu rumah dengan cat berwarna ungu dan itu menjadi tempat singgahku selama sebulan mendatang. Tempatnya cukup nyaman, batinku. Di sini aku berkenalan dengan teman kamar baruku yang memiliki kepercayaan berbeda denganku. Ini kali pertama aku berinteraksi 24/7 dengan orang nonis. Mungkin teori-teori moderasi beragama yang sebelumnya kujadikan topik skripsiku bisa kupraktikkan.

 


Ini awal cerita untuk cerita-ceritaku selanjutnya, sampai jumpa!

Tetaplah berdiri tegak dengan kakimu, kamu tidak akan pernah menyesal akan hal itu…

 

 Pare, 11/10

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita (Sebentar)

 Halo guys!!! Sudah lama ya tidak mendengarkanku bercerita alias yapping ^^ Tulisan terakhir di blogku ini tahun 2024 silam, “Merayakanmu (Lagi) judulnya. Hiatusnya lumayan lama yaa! It’s okay dude. Aku baik-baik aja sekarang.   Tulisanku kali ini hanya ingin sedikit bercerita dengan kehidupanku selama 2 tahun terakhir. Cukup lama aku memang tidak menulis, hari ini mencoba menulis kembali. Menghidupkan ketenangan dan mencurahkan rasa syukur dalam bentuk tulisan. Lagi-lagi Tuhan memberiku kesempatan untuk menulis lagi. Di tengah kesibukan bekerja, hehe udah bekerja aja sekarang yaa.   Dua tahun lalu, tepatnya aku masih struggle untuk mencapai mimpi yash, dengan menempuh kuliah magister. Mimpi yang aku pilih waktu itu. Namun, kini jalannya berbeda jauh dari apa yang aku pikirkan. Aku kini tidak kuliah, tetapi bekerja. Menghasilkan gaji dan memenuhi kesejahteraan perut, eits canda. Tidak hanya kesejahteraan perut kok, saving money is a priority. Di kehidupan de...

Merayakanmu (Lagi)

  Untuk kamu, cinta yang selalu aku rayakan ~ Bulan ke sembilan tahun kemarin, aku sudah menceritakanmu melalui sebuah tulisan yang tidak begitu panjang. Saat itu, perasaanku padamu belum begitu jelas. Namun, kini alur cerita kita sudah jelas bisa kuceritakan… ~ Melewati beberapa purnama dengan jalinan komunikasi yang cukup intens denganmu memberikan kenyamanan tersendiri bagi diriku. Aku merasakan kehadiranmu meski sebenarnya jarak fisik kita begitu jauh. Kamu menjadi rumah yang sebelumnya selalu kudoakan kehadirannya pada Tuhan. Tidak menyangka, kedekatan kita semakin memperjelas perasaan yang tersimpan. Aku mencintaimu. Kamu menjadi pilihanku untuk menjalani proses kehidupan bersama. Sebelumnya aku pernah menuliskan rasa terima kasihku karena padamu karena telah mempersilahkanku berkenalan denganmu. Dan kini aku mengucapkan terima kasih ke-sekian kalinya padamu. Terima kasih sudah memilihku, terima kasih sudah menjadikanku rumah ceritamu, terima kasih sudah mau kujadikan pasanga...

Ego(sentris)

  Memulai tulisan ini ada baiknya aku beri sapaan yang sedikit hangat yaa untuk kalian Hai manusia baik! Siapapun kamu yang berkenan membaca beberapa kata dalam tulisan ini, aku berharap hari-harimu selalu diberikan kebahagiaan yang sederhana. Ya, untuk bahagia tidak membutuhkan sesuatu yang rumit. Aku percaya itu~   *** Egosentris, Perasaan tidak peduli dengan orang lain dan meletakkan perasaan dirimu adalah poros yang harus dimaklumi. Sepertinya aku, kamu atau orang terdekatmu pernah merasa demikian. Membuat orang lain agar selalu peduli dengan apa yang kita rasakan bukan hal yang mudah pun sebaliknya. Realitanya kita juga susah untuk mempedulikan perasaan orang lain, kan? Terdengar kejam, tapi memang manusia sering menunjukkan topeng yang satu ini.  Ada banyak warna perasaan yang kita punya.  Bahagia, sedih, kesal, marah dan perasaan-perasaan lain yang belum menemukan definisinya. Perihal perasaan bahagia dan sedih mungkin sudah sering dibahas dalam berbagai l...