Hai teman! Sudah cukup lama aku tidak menyapa kalian ya…
Aku sungguh ingat terakhir kali, aku bercerita perihal proses perjalananku menuju Pare, Kediri. Kini aku sudah kembali menjalankan aktivitas seperti biasa di rumah. Keinginanku untuk bisa melanjutkan studi magister harus aku tunda terlebih dahulu. Pasti kalian bertanya-tanya, “Kenapa kamu tunda? Bukannya itu impianmu dari dulu ya”. Sebelum aku memberitahu alasan aku menunda kuliah, tolong beri aku waktu untuk bercerita dari awal ya…
***
Tepatnya Mei kesekian 2023 lalu, aku mengambil les privat TOEFL ITP. Aku berharap agar pemahaman dan kompetensiku perihal soal-soal TOEFL akan lebih meningkat. Sebelas hari menyelesaikan les privat, aku memberanikan diri untuk mengikuti official test. Terkesan nekad ya? Tentu kalian sudah tahu hasilnya sebelum aku memberitahu kalian. Aku belum mencapai target minimal standar yang kubuat. Masih cukup jauh mencapai skor 500. Aku merasa kecewa dan sedih. Apa boleh buat ya kan?
Akhirnya setelah beberapa bulan hiatus untuk belajar TOEFL ITP karena memang harus merawat orang tua. Jeda beberapa bulan itu aku sedikit mengubah keinginanku. Aku mencoba lamar kerja sana-sini, sempat beberapa kali aku dipanggil untuk menemui HRD. Namun, lagi-lagi aku belum bisa mengikuti interview. Tentu ada alasan jelas pada saat itu, meski sebenarnya cukup disayangkan.
Jeda beberapa bulan di tahun 2023, aku juga mencoba daftar kuliah di UGM tetapi aku tidak melanjutkan registrasi karena belum bisa meninggalkan orang tua di rumah terlalu jauh. Hingga akhirnya setelah keadaan bapak membaik, aku memutuskan untuk mengikuti kursus Bahasa Inggris di Pare. Selama dua bulan intensif belajar TOEFL ITP, akhirnya aku memberanikan diri lagi untuk mengikuti official test kedua kalinya.
Allah memberikan keberhasilan pada kesempatan keduaku. Hasilnya pun mencapai batas minimal standar yang kubuat. Syukur walhamdulillah. Akhirnya awal 2024, aku mencoba daftar kampus yang sama pada saat kuliah S1 sekaligus mempersiapkan berkas mengikuti beasiswa. Tantangan yang kuhadapi tidak kuduga sebelumnya. Perasaan khawatir, sedih, dan perasaan nano-nano lainnya aku rasakan pada waktu itu. Namun, Allah selalu punya cara tersendiri untuk membuatku semakin tangguh dan merasa bersyukur. Aku selalu diingatkan, tanpa kehadiranNya aku hanyalah hamba tanpa daya apapun.
Penantian demi penantian sudah aku lewati selama beberapa bulan. Proses penantian selama itu sangat berharga bagi diriku. Hingga akhirnya tibalah waktu pengumuman beasiswa. Perasaan optimis dan psimis datang bersamaan. Namun, Allah selalu ingin melihat kegigihanku untuk mencapai tujuan itu. Aku gagal dalam kesempatan pertama. Ya Allah, sedih dan kecewa diri ini. Namun, aku sangat percaya bahwa Allah adalah penulis scenario terbaik bagi manusia. Aku sungguh percaya, bahwa suatu saat nanti aku bisa mewujudkan tujuan itu tentu atas ridhoNya dan restu orang tua.
Terima kasih Ya Allah,
Semoga Engkau selalu memberi hamba kekuatan dalam menjalani setiap prosesnya.
~
Sungguh tidak ada capek yang sia-sia setelah kamu berjuang.
Meski gagal, setidaknya kamu sudah satu langkah di depan dari sebelumnya.
*Foto di Gumul, Kediri
Batang, 16/06


Komentar
Posting Komentar