Langsung ke konten utama

Postingan

K A T A

  SEPILIHAN KATA   Dalam beberapa sajak yang tertuang pada berlembar kertas putih. Sebuah puisi karya Joko Pinurbo dalam bukunya “Malam Ini Aku Akan Tidur di Matamu” mampu memukau pembaca. Puisi berjudul, Mata Air –   Di musim kemarau semua air di desa itu mengering. Perempuan-perempuan legam berbondong-bondong menggendong gentong menuju sebuah sendang di bawah pohon beringin di celah bebukitan. Tawa mereka yang renyah menggema nyaring di dinding-dinding tebing, pecah di padang-padang gersang.   Setelah berjalan lima kilometer jauhnya, mereka sampai di mata air yang tak pernah mati itu...   Puisi yang dikira menggambarkan sebuah kepedihan – tak terduga, tak terkira mata air di situ menggambarkan sebuah kebahagiaan bagi orang-orang yang mengharap kelimpahan air. Kata memang begitu ajaib saat seseorang mampu mengemasnya sedemikian penuh teka-teki.   Lain lagi dalam buku Kekasihku karya Joko Pinurbo pula, sebuah puisi berjudul Kepada Puisi...

Putih

  Detak selalu mengalun tepat Purnama juga setia mengitari bumi Bahkan pagi selalu datang menyambut manusia Tak kalah, malam selalu menjadi teman paling sunyi   *** Hai Jati, sepertinya dunia kini lagi murah hati yaa? Sapaku. Kenapa   memangnya? Hehe. Sudah seharian penuh kamu tertawa loh. *** Aku paham maksudmu Putih, sekarang tawa bisa mengajakku kembali pada niat awalku. Terus bergerak dan berani menghadapi   akan persoalan sekarang ini. But, now I have simple principle. Apapun feelingnya kamu syukuri saja. Kadang duka adalah temanmu saat kamu lupa diri. Serta suka adalah pengingatmu ketika kamu merasa dunia kadang tak selalu adil.

PULANG

  ANTARA AKU DAN RUMAH Kini aku berdiri di depan rumah yang dulu gubuk sederhana dikelilingi semak yang kian meninggi. Tetapi sekarang begitu berbeda- Lelah menghampiriku setelah melewati perjalanan panjang dua hari dua malam. Ya, dua warsa yang lalu aku memutuskan untuk merantau guna melanjutkan studi. Berangkat dari rumah dengan bekal restu dan doa orang tua tekad kuatku semakin memuncak. Meneruskan pendidikan sarjana menjadi harapanku sejak dulu. Bukan tanpa alasan, dulu aku berpikir dengan berkuliah dan menyandang gelar sarjana keluargaku terangkat nama baiknya. Lambat laun, pemikiran itu meredup. Keadaan di perantauan semakin mendewasakan diriku. Harapku satu, ilmu yang sudah ku dapat mampu memberikan manfaat bagi orang-orang terdekatku. Bahkan harapan paling besarku, selalu membahagiakan orang tuaku. *** Aku pulang dan menemui bapak ibuk, mereka kian menua dimakan oleh usia. Batinku kian sesak dihadapkan dengan keadaan saat ini. Pikirku hanya satu, mereka semakin menua ...

Perjalanan-

  Singgah   Pada semesta yang tak lagi muda Pada langit yang tetap megah Pada daun yang gugur ke tanah Pada angin yng berembus pelan Kusampaikan terimak asih Perihal bertahan  Aku belajar darimu Menilik setiap perihal kecil Memberi arti  Tanpa dialog panjang Tanpa suara yang diperdengarkan  Tanpa isyarat membingungkan Kini kuucap 'Selamat tinggal Untuk diriku di masa lalu Kutinggal sesal yang melekat Sudah saatnya melangkah, bergerak Berpindah dari ruang awal aku menetap Kuberi salam, Tuk masa depanku Wahai harap, asa dan mimpiku Semoga lekas bertemu Dalam sempat yang paling tepat -NGALIYAN, SEMARANG-

Ber-Opini

Membaca, Sudahkah Kalian Lakukan Hari Ini?   Ketika terlintas kata “membaca” sudah tentu berhubungan erat dengan tulisan atau bahkan suatu informasi. Seperti yang telah kita ketahui, menurut KBBI, membaca memiliki arti melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis, serta masih ada beberapa arti lain. Hingga saat ini, membaca diidentikkan dengan belajar bagi mayoritas masyarakat. Namun, kali ini penulis memberikan makna lain membaca seperti pada umumnya. Sebenarnya tidak hanya dikaitkan dengan tulisan, tetapi bisa dengan kehidupan yang kita jalani ini. Seperti membaca alam/lingkungan, yang dimaksud yakni memahami alam yang kita tinggali. Ketika datangnya bencana alam, sungguh alam memberi tanda dan berharap kita memahaminya. Agar selalu menjaga dan merawatnya.   Karena Tuhan selalu memberikan makna dan kebaikan dalam penciptaan yang ada di alam raya ini. Selain itu, kita juga seharusnya mampu “membaca manusia”. Terdengar ganjil memang di telinga, namun hal tersebut ada...

Tulisan

Maaf dan Terimakasih

Syair: tak bersajak

Terkenang Kujajaki lorong waktu Melintasi titian batu alam Perih, lara terasa Sebab pergi tanpa alas kaki Kini, aku tiba Dalam sebuah ruang sunyi Namun berpenghuni Terpandang indah nan mempesona Terwalak di bawah dua jabal Sindoro Sumbing Kau terbentang Bernaung sawang langit Lega sudah mengenalmu Kini kita berjarak Berpuluh cerita lama Terukir dalam ingatan Rindu, gelebah, gelisah Berlainan aksara Menjadi balasan Sebab salam perpisahan usai Rindu... Terbangun di sepertiga malam Berpasrah akan esok hari Menitikkan air mata Khidmat, khusyuk  Dalam keheningan  Berhawa dingin Sungguh damai sanubari Kala itu... Asrama kecil Pojokan sekolah Tempat kuberteduh Pekikan, sorakan  Sungguh mencipta tawa Dua tahun sudah, Diri ini tahu dan mengenalmu Berulang kali mengisi kesibukan Mengalihbahasakan bahasa Timur Tengah Hingga Bahasa Negeri Paman Sam Kuucap terimakasih Atas pelajaran Akan kesederhanaan, kesantunan, kesabaran Serta perihal lain yang terabadikan rapi Dalan manuskrip bern...